SYEKH NAWAWI AL BANTANI, BIOGRAFI, SEJARAH & KAROMAH

Posted on

Syekh Nawawi Al Bantani (1230 – 1314 H atau 1813 – 1897 M) atau Syekh Nawawi Banten adalah satu dari 3 ulama Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram ~ Makkah Al-Mukarramah di akhir abad ke-19 dan pada awal abad ke-20. Dua yang lainnya ialah muridnya sendiri, yaitu Syekh Ahmad Khatib Minangkabau & Kiai Mahfudz Termas (wafat 1919 H).

Nama lengkap Syekh Nawawi Al Bantani ialah Abu Abdul Mu’thy Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al Jawi al Bantani. Ia dilahirkan di daerah Tanara – Serang, Banten di tahun 1230 H atau 1813 M. Ayahnya merupakan seorang tokoh agama Islam yang begitu disegani. Ia masih memiliki hubungan nasab dengan Maulana Syaikh Syarif Hidayatullah atau yang biasa disebut Sunan Gunung Jati (Cirebon). Istri Syekh Nawawi Banten yang pertama namanya Nasimah, ia juga lahir di Tanara. Darinya, Syekh Nawawi Banten dikaruniai 3 orang putri, yakni Nafisah, Maryam & Rubi’ah.

Istri Beliau yang kedua namanya Hamdanah, darinya Beliau dikaruniai seorang putri bernama Zuhrah. Ada yang mengatakan, Hamdanah yang saat itu usianya masih belasan tahun dinikahi oleh sang kiai pada yang usianya sudah mendekati seabad. Di usianya yang masih 15 tahun, Nawawi muda pergi untuk belajar ke Tanah Suci Makkah, sebab ketika itu Indonesia (yang masih bernama Hindia Belanda) sedang dijajah oleh Belanda, mereka membatasi kegiatan pendidikan di Indonesia. Beberapa tahun kemudian, Nawawi kembali ke Indonesia untuk memanfaatkan ilmunya pada masyarakat.

Syekh Nawawi Al Bantani

Tidak lama Beliau mengajar, hanya 3 tahun saja, karena kondisi Indonesia masih sama, di bawah kekuasaan penjajah oleh Belanda, yang membuatnya tidak bebas bergiat. Beliau pun kembali ke Makkah & mengamalkan ilmunya di sana, utamanya kepada orang Indonesia yang datang & belajar di sana. Banyak sumber yang menyatakan Syekh Nawawi Al Bantani wafat di Makkah & dimakamkan di Ma’la pada tahun 1314 H atau 1897 M, tapi menurut Al-A’lam & Mu’jam Mu’allim, ia wafat pada tahun 1316 H atau 1898 M.

Syaikh Nawawi Merupakan Penulis Multi Dimensi

Jejak Syekh Nawawi Banten masih dapat ditelusuri baik lewat murid & pengikutnya maupun melalui kitab-kitabnya, yang masih memiliki pengaruh & dipakai di pesantren sampai kini, benar-benar pantas jika Kita menempatkannya sebagai nenek moyang dalam gerakan intelektual Islam di Nusantara ini. Bahkan, sangat boleh jadi, Beliau merupakan bibit penggerak atau King Maker bagi militansi muslim terhadap penjajah Belanda.

Sebagai penulis yang paling produktif, Syekh Nawawi Banten memiliki pengaruh besar di dalam kalangan sesama orang Nusantara & generasi berikutnya lewat pengikut serta tulisannya. Bahkan seorang orientalis seperti Dr. C. Snouck Hurgronje pun memujinya sebagai orang Indonesia paling alim & rendah hati. Ia menulis lebih dari 38 kitab. Sumber lainnya mengatakan lebih dari 100 buah kitab.

Syekh Nawawi Banten menulis banyak karya berupa kitab di dalam hampir semua cabang ilmu yang hingga saat ini dipelajari di berbagai pondok pesantren. Berbeda dari para penulis asal Indonesia sebelumnya, Beliau menulis dalam bahasa Arab. Beberapa karya Beliau merupakan syarah atau komentar atas kitab yang sejak sebelumnya telah digunakan di pondok pesantren serta menjelaskan, melengkapi & kadang mengkoreksi matan atau kitab asli yang dikomentari.

Sejumlah syarah-nya benar-benar telah menggantikan matan asli di dalam kurikulum pesantren. Tidak kurang 22 karyanya (Beliau menulis paling sedikit 2x jumlah itu) masih beredar serta 11 kitabnya paling banyak digunakan di berbagai pesantren. Syekh Nawawi Banten berdiri di titik peralihan antara 2 periode dalam tradisi pondok pesantren. Beliau memperkenalkan & menafsirkan kembali warisan intelektualnya serta memperkayanya dengan menuliskan karya baru berdasarkan kitab-kitab yang belum cukup dikenal di Indonesia di zamannya. Semua kyai di zaman sekarang menganggap Beliau sebagai nenek moyang intelektual mereka.

Bahkan, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau juga termasuk siswanya. Murid-muridnya yang lain antara lain seperti hadhratusy syaikh K.H. Hasyim Asy-ari, Syaikh Khalil Bangkalan, K.H. Raden Asnawi & KH. Tubagus Asnawi.

Karya-Karya & Kitab Syekh Nawawi Yang  Monumental

Beberapa karya monumental Syekh Nawawi Al Bantani antara lain ialah Qathr al-Ghaits, yang merupakan syarah dari kitab akidah populer, Ushul 6 bis, karya dari Syaikh Abu Laits al-Samarqandi, yang di daerah Jawa lebih dikenal dengan kitab Asmaraqandi. Bersama dengan karya Ahmad Subki Pekalongan – Fath al-Mughits, yang merupakan terjemah Bahasa Jawa Ushul 6 Bis, Qathr al-Ghaits ini banyak dipakai & menjadikan Ushul 6 Bis lebih populer

Ushul 6 Bis ini adalah karya mengenai ushuluddin yang terdiri atas 6 bab yang masing-masing dibuka dengan kalimat bismillah. Pada abad ke-19, Kitab Ushul 6 Bis merupakan kitab akidah yang pertama dipelajari di berbagai pesantren tingkat dasar di Indonesia. Dua kitab lainnya yang diajarkan di tingkat yang sama adalah kitab fiqh at-Taqrib fi al-Fiqh yang ditulis Imam Abu Syuja’ al-Isfahani & Bidayah al-Hidayah, sebuah kitab ringkasan Ihya karya al-Ghazali.

Kitab Madarij al-Su’ud Ilaa Ikhtisah al-Burud, yang juga berbahasa Arab dalam berbagai terbitan juga merupakan adaptasi Indonesia dari kitab karya Ja’far bin Hasan al-Barzanji mengenai Maulid an-Nabi (‘Iqd al-Jawahir). Kitab acuan lainnya yang paling penting adalah Minhaj at-Thalibin & syarahnya atas karya Khatib Syarbini, yaitu Mughni al-Muhtaj. Minhaj yang dijadikan dasar utama semua teks juga dianggap sebagai sebuah sumber riil otoritas.

nashoihul ibad
Kitab nashoihul ibad, versi Arab & terjemahannya

Teks dasar di dalam bidang akidah adalah Umm Al-Barahin (dinamakan juga Al-Durrah) karya dari Abu’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi (wafat 895 H atau 1490 M). Syarah yang lebih mendalam, populer sebagai as-Sanusi, yang ditulis oleh penulisnya sendiri. Karya-karya lainnya yang sebagian berdasarkan atas Kitab As-Sanusi ini adalah kitab Kifayatul ‘Awwam yang ditulis oleh Muhammad bin Muhammadal Fadhdhali (wafat pada 1236 H atau 1821 M) yang sangat terkenal di Indonesia.

Murid Fadhali, yaitu syaikh Ibrahim Bajuri (wafat 1277 H atau 1861 M) menulis syarahnya, Taqiq al-Maqam ‘Ala Kifayatil ’Awwam, yang dicetak bersama dengan Kifayah dalam edisi Indonesia. Syarah ini di-hasyiyah-kan juga oleh Syekh Nawawi Banten dalam karyanya yang banyak dibaca para santri, yaitu kitab Tijan ad-Durari.

Bukan cuma itu, Syekh Nawawi Al Bantani juga menulis kitab yang diperuntukkan bagi anak-anak & remaja. Kitab singkat ini berbentuk sajak untuk mereka yang masih berusia belia & baru mengerti akan bahasa Arab, ‘Aqidatul al-Awwam, ditulis oleh Syekh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki yang bergiat kira-kira pada 1864 M. Syekh Nawawi Banten kemudian menulis syarah yang terkenal atasnya, Nuruzh Zhalam.

Kitab Nasha’ih al-‘Ibad merupakan karya lain dari Syekh Nawawi. Kitab ini adalah syarah atas karya Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani, yaitu  Munabbihat ‘Alal Isti’dad Li Yaumil al-Ma’ad. Kitab tersebut membahas tentang adab berperilaku & sering dijadikan karya pengantar untuk mengenal akhlak bagi para santri yang lebih muda.

Syekh Nawawi Al Bantani juga menulis syarah berbahasa Arab atas kitab Bidayah al-Hidayah karya Imam Al-Ghazali dengan judulnya Maraqi al-‘Ubudiyah yang lebih popular, apabila dinilai dari jumlah edisinya yang cukup banyak yang masih bisa ditemukan sampai sekarang.

‘Uqd al-Lujain fi Huquq az-Zaujain merupakan karya Nawawi mengenai hak & kewajiban suami istri. Ini merupakan materi pelajaran wajib untuk para, terutama santri putri di berbagai pesantren. Dua terjemahan dan juga syarah-nya dalam bahasa Jawa yang populer seperti Hidayah al-‘Arisin yang ditulis Abu Muhammad Hasanuddin Pekalongan & Su’ud al-Kaumain yang ditulis Sibt al-Utsmani Ahdari al-Jangalani al-Qudusi.

Syekh Nawawi Al Bantani yang terkenal sangat produktif menuliskan berbagai karya juga menulis kitab syarah Salalim al-Fudhala’, atas kitab Hidayah al-Adzkiya’ Ila Thariq al-Auliya, ini merupakan teks pelajaran tashawuf praktis karya dari Syaikh Zainuddin al-Malibari yang disusunnya dalam untaian sajak pada tahun 914 H atau 1508 – 1609 M. Kitab ini sejak dulu sangat terkenal di daerah Jawa, misalnya disebutkan juga di dalam Serat Centhini. Salalim al-Fudhala’ tercetak di bagian tepi kitab Kifayatul Ashfiya karya populer dari Sayyid Bakri bin Muhammad Syaththa’ ad-Dimyaty.

Syekh Nawawi Banten juga termasuk ulama besar yang memberikan sumbangan sangat penting untuk perkembangan ilmu fiqh di Nusantara. Ia memperkenalkan & menjelaskan lewat syarah yang ia tulis, berbagai karya fiqh-nya penting serta mendidik generasi ulama yang menguasai & memberikan perhatian khusus kepada fiqh.

Ia menuliskan kitab fiqh yang dipakai secara luas, Nihayat al-Zain. Kitab ini adalah syarah kitab Qurrat al-‘Ain, karya seorang ulama India Selatan pada abad ke-16, Zainuddin al-Malibari (wafat 975 M). ulama India tersebut merupakan murid Ibnu Hajar al-haitami (wafat pada 973 M), penulis Tuhfatul al-Muhtaj, namun Qurrat & syarah yang belakangan ditulis oleh al-Malibari sendiri tidak didasarkan pada kitab Tuhfah.

Qurrat al-‘Ain ini belakangan dikomentari & ditulis kembali oleh penyusunnya sendiri menjadi Fathul Muin. Dua orang yang sebenarnya sezaman dengan Syekh Nawawi Banten saat di Makkah namun lebih muda usianya menuliskan hasyiyah (catatan) atas kitab Fathul Mu’in. Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menuliskan empat jilid I’anah at-Thalibbin yang berisi catatan pengarang & sejumlah fatwa mufti madzhab Syafi’i di Makkah kala itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. Inilah kitab yang sangat populer sebagai rujukan utama.

Syekh Nawawi Banten juga menulis kitab dalam bahasa Arab yaitu kitab Kasyifah as-Saja’, syarah atas dua karya lainnya yang juga penting dalam pembelajaran ilmu fiqh. Yang satu merupakan teks pengantar kitab Sullam at-Taufiq yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’lawi (wafat pada 1272 H atau 1855 M). Satu lainnya adalah Safinah an-Najah ditulis Syaikh Salim bin Abdullah bin Samir, ulama Hadramaut – Yaman yang tinggal di Batavia (Jakarta) pada pertengahan abad 19.

Kitab daras atau text book Riyadhul Badi’ah fi Ushuliddin wa Ba’dh Furu’ asy-Syari’ah yang membahas tentang butir pilihan ajaran & kewajiban agama juga diperkenalkan oleh Syaikh Nawawi Al Bantani pada kaum muslimin di Indonesia. Tak banyak diketahui mengenai pengarangnya, Syaikh Muhammad Hasbullah. Mungkin ia sezaman dengan ataupun sedikit lebih tua dari Syekh Nawawi Banten. Ia dikenal terutama karena syarah Nawawi, yaitu Tsamar al-Yani’ah. Karyanya hanya dicetak di bagian pinggirnya.

Sullamul Munajat merupakan karya lainnya dari Syaikh Nawawi Al Bantani atas sebuah pedoman ibadah bernama kitab Safinah ash-Shalah yang ditulis Syaikh Abdullah bin Umar Al-Hadramy, sedangkan Kitab Tausyih Ibn Qasim merupakan komentar Beliau atas kitab Fath al-Qarib. Dan tentu masih banyak lagi karya Syekh Nawawi ini jika dijabarkan satu per satu.

Syekh Nawawi Al Bantani Sebagai Tokoh Sufi Qodiriyah

Syekh Nawawi juga tercatat sebagai tokoh sufi dengan thariqah Qadiriyah, yang mengikuti ajaran ajaran Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (wafat pada 561 H atau 1166 M). Sayangnya, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis masih belum mendapatkan bahan untuk rujukan yang memuaskan mengenai Syekh Nawawi Al Bantani sebagai pengikut thariqah Qadiriyah ataukah thariqah gabungan Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Padahal, sejak lama pembacaan kitab Manaqib Abdul Qadir pada berbagai kesempatan tertentu merupakan indikasi akan kuatnya tarekat ini di wilayah Banten. Bahkan, Hikayah Syekh, terjemahan salah satu dari versi Manaqib, Khulashatul Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib As-Syaikh ‘Abdil Qadir yang ditulis ‘Afifuddin al-Yafi’i (wafat pada 1367 M), sangat mungkin dikerjakan di Banten di abad ke-17, terutama mengingat penggunaan gaya bahasanya yang sangat kuno. Apalagi, pada pertengahan abad ke 18 silam, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, di dalam segel resminya menggelari dirinya al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin asal Kalimantan di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib Sambas (wafat pada 1878), menyebarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan juga dengan Naqshabandiyah. Kedudukan Beliau sebagai pemimpin thariqah digantikan oleh Syaikh Abdul Karim yang juga bermukim di Mekah. Di tangannya, thariqah gabungan ini kemudian berkembang pesat di wilayah Banten & memberi pengaruh pada meletusnya Geger Cilegon pada tahu 1888 & amalannya melahirkan debus.

Demiakanlah, Syekh Nawawi Banten yang hidup sekitar seabad setelah Syaikh Abdush Shamad Al-Falimbani disebutkan namanya di dalam isnad kitab tashawuf yang telah diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning yang masyhur, yaitu Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani (Syekh Yasin Padang) sebagai mata rantai sesudah Syaikh ‘Abd as-Samad.

Karomah Syekh Nawawi Al Bantani

Karomah merupakan kejadian luar biasa sebagai bentuk karunia Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang sholeh dan istiqamah dalam beribadah dan menjaga diri dari kemaksiatan. Diantara berbagai karomah Syaikh Nawawi, berikut beberapa diantaranya yang populer ceritanya di tengah masyarakat.

Menjadikan Telunjuknya Sebagai Lampu

Pada suatu waktu Syekh Nawawi Banten pernah menulis kitab dengan memakai telunjuk beliau yang dijadikannya sebagai lampu. Ketika di dalam sebuah perjalanan, karena tidak ada cahaya dalam syuqduf ataupun rumah-rumahan, sementara aspirasi sedang kencang mengisi kepalanya. Syekh Nawawi Al Bantani lantas berdoa & memohon pada Allah  agar telunjuknya yang kiri bisa menjadi pelita supaya mampu menerangi jarinya yang kanan yang sedang digunakannya untuk menulis.

Kitab yang kemudian bernama Marâqil ‘Ubudiyyah syarah kitab Bidâyah al-Hidayah itu harus dibayar dengan cacat pada bagian jari telunjuk kirinya. Cahaya yang Allah berikan pada jari telunjuk kirinya tersebut membawa bekas yang tidak hilang.

Marah Labid, Tafsir Munir Syek Nawawi
Tafsir Munir (Marah Labid), Karya Monumental Syekh Nawawi

Melihat Ka’bah Dengan Telunjuknya

Karomah Syekh Nawawi Banten yang lain juga cukup populer dalam cerita turun temurun adalah di saat Beliau mengunjungi salah satu masjid di Kota Jakarta kala itu, yakni Masjid Pekojan. Masjid yang didirikan oleh salah seorang keturunan Rasulullah saw, yaitu Sayyid Utsmân bin ‘Agil bin Yahya al ‘Alawi. Masjid yang dibangun oleh ulama & Mufti Betawi itu ternyata mempunyai kiblat yang salah. Padahal yang kala itu menentukan kiblat adalah Sayyid Utsmân sendiri.

Kemudian, Sang Mufti Betawi kedatangan seorang remaja (Syekh Nawawi muda) yang mempermasalahkan arah kiblatnya. Ketika remaja yang bahkan tidak dikenalnya tersebut menyalahkan penentuan arah kiblat, maka Sayyid Utsman merasa kaget. Diskusi seru kemudian terjadi di antara mereka berdua. Sayyid Utsmân tetap keukeuh berpendirian bahwa kiblat Mesjidnya itu sudah benar. Sementara remaja bernama Nawawi berpendapat bahwa arah kiblat mesjidnya itu perlu dibetulkan.

Saat kesepakatan ternyata tidak bisa diraih sebab masing-masing mempertahankan argumennya dengan teguh, Syaikh Nawawi Al Bantani meletakan tangan kirinya pada bahu Sayyid Utsmân (merangkul) & tangan kanannya menunjuk sesuatu, lantas Nawawi muda berkata: “Lihatlah Sayyid, itulah Ka’bah, kiblat kita. Lihat & perhatikanlah. Tidakkah Ka’bah itu terlihat sangat jelas? Sementara arah kiblat masjid ini agak ke kiri. Maka perlu kiblatnya digeser sedikit ke kanan agar tepat menghadap ke arah Ka’bah”. Ujar Syaikh Nawawi Al Bantani yang masih remaja tersebut.

Sayyid Utsmân akhirnya termangu dan keheranan. Ka’bah yang ia saksikan dengan mengikuti telunjuk Nawawi remaja memang tampak jelas. Sayyid Utsmân pun merasa takjub & menyadari  bahwa remaja yang bertubuh kecil & berada di hadapannya ini dikaruniai Allah akan kemuliaan, yaitu terbukanya nur basyariyyah. Dengan karamah tersebut, di manapun Syekh Nawawi Banten berada, Ka’bah tetap terlihat. Maka dengan penuh hormat Sayyid Utsman langsung saja memeluk tubuh kecil beliau & menjabat serta hendak mencium tangannya, namun ketika Sayyid Utsmân hendak mencium tanganya, Nawawi yang masih remaja menarik tangannya, Sayyid Utsmân pun kebingungan kenapa beliau tidak mau.

Sayyid Utsmân lantas bertanya & Syaikh Nawawi menjawab: “Sebab saya tidak pantas untuk bersalaman sambil dicium (tangan Saya) seperti itu olehmu”. Subhanallah memang begitu tawadhu & mulianya akhlak Beliau. Hingga saat ini, apabila kita mengunjungi Masjid Pekojan, maka akan terlihat kiblat yang digeser, tidak sesuai bentuk bangunan aslinya.

Jenazahnya Dimuliakan Allah

Telah menjadi kebijakan baku bagi Pemerintah Arab Saudi bahwa orang-orang yang telah dikubur selama 1 tahun kuburannya harus digali. Kemudian tulang belulang mayat diambil & disatukan bersama tulang belulang mayat yang lainnya. Selanjutnya semua tulang tersebut dikuburkan di tempat lainnya di luar kota. Lubang kubur yang telah dibongkar dibiarkannya tetap terbuka hingga datang jenazah baru berikutnya, demikian seterusnya silih berganti. Kebijakan yang satu ini dijalankan tanpa pandang bulu. Siapapun orangnya, pejabat ataupun orang biasa, saudagar kaya raya atau orang miskin, semua terkena kebijakan tersebut.

Ini yang juga menimpa kuburan Syaikh Nawawi Al Bantani. Kuburnya telah genap berusia satu tahun, para petugas dari pemerintah kota datang untuk menggali makamnya. Namun yang terjadi adalah hal yang tidak lazim. Para petugas tersebut tidak menemukan tulang belulang mayat seperti biasanya. Yang ada adalah satu jasad manusia yang masih utuh. Tak kurang satu apapun, tidak ada lecet atau tanda-tanda pembusukan sedikitpun seperti jenazah yang sudah lama dikubur. Bahkan kain kafan berwarna putih penutup jasad Beliau tidak rusak, masih harum & tidak lapuk sedikitpun.

Tentu saja kejadian tersebut mengejutkan para petugas penggali kubur. Mereka kemudian lari berhamburan dan melapor pada atasannya & menceritakan apa yang terjadi. Setelah diteliti, atasan mereka kemudian menyadari bahwa kubur yang digali itu bukan milik orang sembarangan. Langkah strategis kemudian diambil. Pemerintah melarang untuk membongkar makam tersebut. Jasad beliau kemudian dikuburkan kembali seperti sediakala. Sampai sekarang makam Syekh Nawawi Al Bantani tetap berada di pekuburan Ma’la, Mekah & yang paling aneh kuburan Beliau merupakan satu-satunya kuburan yang ditumbuhi rumput bahkan rumputnya tampak hijau dan bagus.

Tidur Di Atas Lidah Ular

Konon di suatu malam dimana Syekh Nawawi Banten sedang melanjutkan perjalananya menuju ke Mekkah, beliau merasa kelelahan & mencari sebuah gubuk yang tidak berpenghuni. Setelah mencari-cari cukup lama, akhirnya beliau menemukan cahaya lampu yang sangat redup & kecil. Akhirnya beliau pergi ke tempat tersebut & memulai untuk beristirahat. Dibenaknya, Beliau bertanya-tanya, “Kok alas gubuk ini sangat lembut & empuk ya?”. Namun Saking lelahnya Beliau tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, tidurlah Beliau dengan meletakan tongkatnya dalam posisi berdiri.

Shubuh pun datang & Beliau terbangun dari tidurnya untuk sholat & kemudian segera melanjutkan perjalananya. Setelah berjalan kurang lebih 7 langkah dari tempat peristirahatanya tersebut, Beliau menyentuh darah yang berasal dari ujung tongkatnya tersebut, Karena merasa heran kemudian beliau menoleh ke arah belakang & melihat seekor ular raksasa yang mulai beranjak pergi. Tanpa disadari ternyata Beliau semalam tidur di lidah seekor ular raksasa & tongkatnya yang berposisi berdiri merintangi kedua gigi ular raksasa tersebut. Beliau pun langsung beristighfar & kemudian memuji kebesaran Allah dengan mengucap kalimat kebesaran-Nya.

Mengeluarkan Rambutan Dari Tangannya

Di Mekkah, Syekh Nawawi Banten mendirikan tempat mengajar/madrasah dengan murid yang lumayan banyak. Suatu hari Beliau menerangkan pada para muridnya tentang sunnah berbuka puasa.

Syaikh Nawawi berkata, “Sunnah dalam Islam kalau berbuka puasa itu memakan makanan yang manis-manis terlebih dulu, kalau disini ada buah kurma, ditempatku ada yang tak kalah manisnya dengan kurma”. Para santrinya menjawab, “Betul syaikh, ditempat Kami ada kurma, lantas bagaimana dengan tempat syekh yang tidak tumbuh buah kurma?”

Syaikh Nawawi menjawab, “Sebentar”. Kemudian Beliau menyembunyikan tangannya ke belakang. Para santri merasa heran dengan apa yang dilakukan gurunya & terdengar ditelinga para santri seperti suara seperti orang yang sedang memetik buah-buahan dari pohonnya.

Kemudian Syekh Nawawi Al Bantani menyuguhkan buah Rambutan segar seperti yang baru dipetik dari pohonya. Para santri pun merasa takjub dengan apa yang baru saja dilakukan oleh gurunya tersebut.

“Nah inilah yang aku makan pertama di saat berbuka puasa di tempatku, silahkan cicipi”. Kata Syekh Nawawi yang kemudian membagikannya pada para santri dikelas tempatnya mengajar. Para santri kemudian langsung mencicipi & menikmati manis & segarnya buah rambutan yang diberikan oleh gurunya itu.

Karomah Syekh Nawawi Al Bantani memang sangat banyak, masih banyak yang tidak dituliskan disini. Karomah merupakan buah dari istiqamah yang dikaruniakan Allah bagi orang orang yang dikehendakinya. Namun yang perlu Kita teladani dari Syekh Nawawi Banten adalah kesungguhannya dalam mencari ilmu, kemuliaan akhlaknya, kegigihannya dalam beribadah serta sosoknya yang memberikan manfaat bagi banyak orang, terutama umat Islam melalui berbagai karya dan murid muridnya.